Job Offering 2012

Posted: Desember 1, 2012 in Uncategorized

Akhirnya setelah beberapa waktu menunggu kabar baik, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi TI menghubungi kembali untuk melakukan wawancara akhir HR dan job offering.
Hari Rabu (21/11) saya menggunakan rute standar yang mungkin akan terus saya lalui setiap hari nanti, berangkat dengan sepeda motor dari rumah dan menitipkannya di Stasiun KRL Pondok Cina Depok, dilanjutkan dengan kereta Commuter Line rute kuning (ke Tanah Abang/Jatinegara) dan turun di Stasiun Sudirman atau juga transit dulu di Manggarai seperti yang saya lakukan saat itu, dibutuhkan waktu satu setengah jam jadinya. Gedung Nugra Santana, hanya berjarak sekitar 500. Meter atau 15 menit berjalan dari stasiun Sudirman. Saya pernah kesitu sebelumnya pada proses wawancara pertama beberapa minggu sebelumnya.
Ditemui oleh seorang pria jangkung yang ternyata masih cukup untuk posisi C level, beliau menanyakan mengenai hal-hal yang bersifat non-teknis. Perbincangan menyangkut karir saya yang lama dan yang akan saya geluti nantinya yang pada intinya ingin memastikan bahwa saya memiliki komitmen yang besar pada pekerjaan saya yang baru. Strategic IT Consultant bukan sesuatu yang asing tapi memang akan menjadi profesi yang baru buat saya. Semoga saat itu saya telah mampu meyakinkannya karena setelahnya disodorkanlah Job Offering berupa posisi, gaji, tunjangan dan ketentuan masa percobaan. Menurut saya offering itu memenuhi harapan saya saat ini dan saya pun menandatanganinya. Artinya saya sudah resmi bergabung di perusahaan itu dan Senin (3/12) sudah mulai masuk. Alhamdulillah.
Implikasi dari momen ini yang perlu saya persiapkan adalah saya harus mulai membangun kebiasaan baru untuk rutin dan mendukung kinerja sehari-hari, termasuk bangun pagi dan bersiap menembus belantara arus kegiatan manusia di Jakarta. Dalam jangka panjang saya juga harus mempersiapkan semua kemungkinan dan kesempatan yang akan saya lalui dalam rentang masa kerja yang saya rencanakan yaitu paling tidak hingga 5 tahun ke depan atau hingga akhir tahun 2018 (mirip Jokowi saja).
Saya sudah menunggu lama dan kesempatan untuk berkarir dan mengembangkan diri menjadi lebih baik akhirnya di depan mata, inilah memang yang saya inginkan. Bismillah.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tidak dapat dipungkiri bagaimana saat ini budaya pop Korea telah “diterima” di masyarakat kita dengan berbagai macam tampilan dan liputannya.¬†Ada hal menarik yang kudengar di radio mobil dalam sebuah perjalanan di sekitar Jawa Tengah, dimana ada semacam iklan atau semacam selipan di radio itu yang sedikit menyindir bagaimana anak-anak sekarang begitu hapal dengan hal-hal berbau korea namun lupa dengan kekayaan budaya tradisional yang dimiliki oleh negeri ini. Selanjutnya kukira akan ada event lain yang menyertai iklan itu yang berhubungan dengan budaya Indonesia, tapi ternyata hanya sekedar sindiran saja.

Sebenarnya kalau dipikir budaya-budaya pop asing telah lama ada di Indonesia dan pernah ada jamannya setiap generasi suka dengan budaya pop asing seperti budaya pop Inggris (The beatles), budaya Pop Amerika (Film2 Hollywood dan serialnya sampai sekarang), budaya pop jepang (manga, anime sampai sekarang), dan sekarang budaya Pop Korea (drama dan musik, dan mungkin sampai nanti), hal tersebut bukan suatu hal yang baru. Meskipun memang kita sebagai putra putri negeri ini digempur (atau tepatnya dengan sukarela) habis-habisan tapi tidak berarti kita selalu menyindir diri kita sendiri (meskipun beda generasi) bahwa generasi muda tidak mencintai budaya asli Nusantara. Toh, orang yang selalu menyindir begitu biasanya juga tidak menyertainya dengan sebuah aksi nyata. Apalagi budaya tradisional dalam negeri sendiri memang tidak seharusnya bersaing head-to-head dengan budaya pop asing. Budaya pop ya harusnya bersaing dengan budaya pop saja.

Dan menurutku, masih ada generasi muda yang aktif selalu melestarikan dan meningkatkan kualitas budaya nusantara dan mereka itulah yang harusnya di support daripada menyindir para konsumen seni itu sendiri. Toh, memang penikmat seni memang harus lebih banyak dari senimannya bukan. Kalau sudah begitu aku juga terketuk juga karena belum ada hal yang bisa kulakukan untuk melestarikan budaya tradisional ataupun pop dari nusantara.

Tukang Parkir

Posted: Mei 19, 2012 in Uncategorized

Entah kenapa ya aku selalu jengkel sama tukang parkir (TP) pinggir jalan. Bahkan sekarang aku mulai pilih2 tempat berhenti, misalnya ke warung atau minimarket, mencoba menghindari lokasi yg ada TPnya. Masalahnya hampir setiap tempat ada TP nya. Dari dalam hati, aku mulai mempertanyakan tentang keberadaan profesi itu ditengah masyarakat. Meskipun begitu, aku tidak ada masalah dengan tempat parkir yg terkelola. Sementara TP seperti jamur dimana2, atm, toko, warung, dll. Seperti tidak ada ruang yg bebas dari anggota masyarakat kita yg satu ini.
Kadang aku jadi tidak enak sendiri karena harus merasa begitu. Dalam masyarakat ini, keberadaan TP adalah sesuatu yg wajar. Aku belum pernah mendengar orang lain berkeluh soal TP kecuali kalau ada TP yg kerjanya cuman nyemprit sambil minta uang kalau mobil/motor kita hendak meninggalkan tempat parkir. Atau yg lebih rasional mengeluh tentang tiket parkir yg tidak ada. Menurutku masalahnya masih kenapa kita masih menerima aktifitas TP ini di tengah2 kita. Adakah cara yg lebih baik?
Seorang kawan pernah bilang klo toh TP juga pekerjaan halal dan memberi uang setiap kali kita pindah parkir bukan hal yg perlu dipikirkan, toh, jumlahnya tidak seberapa. Peran TP pinggir jalan sepertinya jg imbas dari budaya lalu lintas yg kurang baik (jalanan yg sempit ditambah bisnis2 kecil di tepinya) membuat hal ini menjadi bisnis beromset besar bahkan mungkin jumlah retribusinya ke daerah.
Membenci TP nya sendiri juga salah. Pernah karena jengkel, aku tanya ke seorang TP kenapa ada parkir di tempat ini, orangnya menjawab dgn santun, dia mau menerima berapapun bahkan kalau tidak dikasih jg tidak apa2. Lain waktu aku tanya ke penjaga tokonya, dia bilang TP cukup membantu. Nah lho, jd kenapa aku harus tetap tidak suka dengan adanta TP ini?
Alternatif lain adalah setiap toko pinggir jalan membayar retribusi bebas parkir ke pemda, membuat tempat parkir yg terkelola keamanan dan kenyamanannya.
Sebuah fenomena sosial di masyarakat. Kalau sesuatu tidak bisa disalahkan, tentu itu tidak bisa disebut salah. Hanya aku merasa siapa tahu ada orang lain yg merasakan hal yg sama.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Listen vs Hear

Posted: Maret 14, 2012 in Uncategorized

Kata dosenku Listen dan Hear itu berbeda. Listen hanya mendengarkan saja sementara Hear berarti menyimak apa yang di dengar. Betul sekali itu.

Takdir dan Kepintaran

Posted: Maret 1, 2012 in Uncategorized

Ada 2 jenis orang pintar.

1. Orang pintar yang sukses (mendirikan perusahaan, menjadi terkenal)
2. Orang pintar yang tidak suskses (menjadi karyawan biasa)

Istilah Pintar tidak bisa disamakan dengan Pandai. Meskipun demikian Pandai dapat berarti baik juga dapat berarti buruk.

Orang Pintar yang sukses bukan saja pandai. Namun nampaknya lebih karena ia memiliki rasa percaya diri karena mampu mengendalikan kepandaiannya. Kepintaran hanyalah sumber daya. Kepandaian adalah alat. Motivasi dan kepercayaan diri adalah modal yang menggerakkan semuanya. Artinya semua kembali kepada manusianya. Manusia kembali kepada bagaimana ia tumbuh dan lingkungannya.

Sepertinya semua hal yang dihadapi manusia telah dirancang dengan sempurna oleh Yang Maha Kuasa sejak sebelum manusia dilahirkan. Mungkin itu yang disebut takdir.

Menemukan Kepercayaan

Posted: Februari 25, 2012 in Uncategorized

Kehilangan kepercayaan pada semua hal.

Ada benturan batin antara menjadi bagian dari semua ini dengan yang dialami.

Ada kesan yang tidak seimbang dalam diri ini.

Mengapa bisa begitu? Mengapa diciptakan begitu?

Tapi keadaan ini tidak menyelesaikan masalah, justru memperburuk masalah.

Apa masalah sesuatu yang kita buat sendiri. Sebuah ilusi?

Kenyataan ataukah jebakan?

Sindrom Tidak Suka Makan Daging

Posted: Februari 14, 2012 in Uncategorized

Ini jenis sindrom yang kukarang sendiri. Namanya Sindrom Tidak Suka Makan Daging.

Ada beberapa orang yang kukenal yang bercerita atau diceritakan tidak suka makan daging (utamanya sapi). Anehnya mereka sama-sama dibilang lebih senang makan ikan. Sebenarnya aku menganggap hal ini adalah karena sugesti atau trauma pada masa lalu.

Ada orang yang tahu kalau dirinya trauma. Biasanya karena pernah makan daging yang kurang masak atau bagaimana. Tapi yang paling menjengkelkan adalah kalau orang yang membuat trauma itulah yang justru membenarkan ketidaksukaan orang lain akan sesuatu hal. Mungkin mereka tidak sadar bahwa merekalah (mari kita bilang orang seperti ini sebagai syndromaker) yang membuat orang lain trauma (mari kita bilang saja orang ini sebagai syndromee). Syndromaker ini selamanya tidak mampu bertanggung jawab pada hal yang menimpa syndromee tersebut.

Inilah sindrom Tidak Suka Makan Daging.